Abstrak
Olahraga ini memang diakui secara perkembangannya masih sedikit lambat. Tapi, dibalik itu juga apabila ada khalayak masyarakat hendak menenkuni atau tertarik pada cabang olahraga ini, tidak ada salahnya apabila mengetahui sejarah dari olahraga ini. Ibarat kata pepatah, ”Tak kenal maka tak sayang”, sehingga apabila telah mengetahui sedikit sejarah atau asal muasalnya olahraga ini dapat menanamkan rasa kecintaan pada cabang olahraga anggar ini.
Pada zaman purbakala sebelum ada senjata modern, setiap bangsa sudah beranggar untuk membela diri dengan menangkis ataupun menyerang. Yang dipergunakan adalah barang apapun juga, baik dari kayu maupun dari besi untuk menangkis bila mendapat serangan. Seiring dengan perkembangannya dalam permainan pedang, permainan pedang juga sudah menggunakan pelindung muka dan juga pelindung pada ujung pedang agar tidak mencelakakan orang. Dengan berdirinya perkumpulan anggar di Frankfurt pada abad ke-14 maka Bangsa Jerman adalah Bangsa yang pertama kali menjadikan anggar sebagai olahraga. Sesuai dengan kemajuan zaman, maka diperlukan dasar dan peraturan pertandingan olahraga anggar. Seorang Bangsawan Perancis yang bernama Hendry Saint-Didier sekitar tahun 1570 menciptakan nama istilah-istilah pada gerakan – gerakan anggar, dalam bahasa Perancis.
Di Indonesia anggar telah lama dikenal sebagai alat membela diri dengan menggunakan pedang, keris dan tombak yang telah lazim dilakukan sejak zaman kemegahan Kerajaan Majapahit. Semasa penjajahan Pemerintahan Belanda, bagi tiap militer Belanda anggar menjadi kewajiban untuk dipelajari. Seiring dengan perkembagannya di Indonesia akhirnya olahraga ini dapat hidup dan tumbuh berkembang di Indonesia tahap demi tahap dan harapannya melalui sedikit ceritera sejarah olahraga klasik ini dapat menggugah para pecinta olahraga ini untuk semakin mencintai olahraga anggar.
Kata Kunci : Sejarah, Perkembangan, Anggar.
PENDAHULUAN
Anggar salah satu cabang olahraga tua yang belum begitu memasal di kalangan masyarakat, bagaimana tidak, selain olahraga ini berasal dari negeri Eropa dan dari salah satu olahraga khusus bangsa bangsawan kerajaan pada zaman dahulu. Olahraga ini juga mempunyai perlengkapan yang harganya cukup mahal, dikarenakan Indonesia baru mampu mengkonsumsi peralatan ini dengan mengimpor dari luar negeri. Dari sedikit gambaran itulah akhirnya masyarakat sedikit berpikir panjang apabila hendak menekuni cabang olahraga ini.
Olahraga ini memang diakui secara perkembangannya masih sedikit lambat. Tapi, dibalik itu juga apabila ada khalayak masyarakat hendak menenkuni atau tertarik pada cabang olahraga ini, tidak ada salahnya apabila mengetahui sejarah dari olahraga ini. Ibarat kata pepatah, ”Tak kenal maka tak sayang”, sehingga apabila telah mengetahui sedikit sejarah atau asal muasalnya olahraga ini dapat menanamkan rasa kecintaan pada cabang olahraga anggar ini. Hal ini juga di dukung dengan pernyataan dari Slamet P (1990 : 7) bahwa anggar adalah suatu cabang olahraga yang aman, dimana seorang pemain anggar dapat memperlihatkan daya saingnya dengan terkendali, dan salah satu daya tarik dari olahraga ini adalah bahwa kesehatan dan usia muda saja tidaklah cukup, tetapi siasat, pengalaman, keahlian teknis dan rasa juang sama pentingnya.
Sejarah Anggar Sebagai Salah Satu Cabang Olahraga Resmi yang Dipertandingkan
Pada zaman purbakala sebelum ada senjata modern, setiap bangsa sudah beranggar untuk membela diri dengan menangkis ataupun menyerang. Sesuai yang dinyatakan oleh Dugan, Ken and Dewitt,R.T (1978 : 153) bahwa alat yang dipergunakan adalah barang apapun juga, baik dari kayu maupun dari besi untuk menangkis bila mendapat serangan. Taylor, James (1991 : 1) menyebutkan bahwa terdapat cerita sejarah lukisan dalam Makam Seragon telah ditemukan sebilah pedang pendek terbuat dari tembaga yang menurut dugaan sudah berumur + 5000 tahun dan merupakan senjata anggar yang pertama . Seragon adalah raja pertama dari Kerajaan Purba di sekitar sungai Euphrat Mesopotamia. Menurut pahatan lama + 3000 tahun yang lalu bangsa Mesir, Yunani, dan Tionghoa Kuno sudah mahir dalam permainan anggar dengan cara lama.
Sebelum adanya bentuk anggar seperti sekarang ini, pedang telah digunakan pada masa Persi, Yunani, Romawi, dan Babilonia. Relief yang terdapat di candi Luxor di Mesir menggambarkan tentang adegan pertandingan anggar sekitar abad 119 sebelum Masehi dengan menggunakan pedang sebagai alat, sesuai yang dikisahkan oleh Johnson, Samuel (2006 : 1).
Pada abad pertengahan alat anggar ( epee/degen ) dipakai sebagai senjata untuk mengadu kekuatan antara kaum bangsawan dalam perang tanding/pertandingan antara dua teman (duel). Jika seseorang merasa terhina, maka terjadilah suatu duel dengan mempergunakan senjata anggar yang disebut epee. Ini dipakai sebagai senjata menusuk, sehingga dalam pertandingan tersebut tidak dapat dihindarkan kematian. Seseorang duelis tetap hidup karena dalam pertarungan tersebut ia menang, dan yang mati adalah yang kalah. Duel ini menjadi mode di dunia Barat antara para Bangsawan pada waktu itu. Kemudian permainan makin berkembang, bilamana terjadi suatu duel, kemudian seseorang terkena ( luka ) maka pertarungan dihentikan dan ia dinyatakan kalah (Vince, Joseph, 1940 : 1).
Seiring dengan perkembangannya dalam permainan pedang, permainan pedang juga sudah menggunakan pelindung muka dan juga pelindung pada ujung pedang agar tidak mencelakakan orang. Di samping itu, ada seseorang yang bertugas mencatat hasil pertandingan yang telah digambarkan dengan indahnya dalam relief tersebut. Anggar itu bermula dari pedang yang berat dengan pakaian perang, berubah menjadi senjata yang ringan dan langsing, termasuk pakaiannya, sehingga mudah cara menggunakannya. Dalam pertandingan anggar juga dipergunakan pedang sebagai cirri khasnya, pedang sebagai alat untuk bertanding (Garret.R, Maxwell, 1961 : 5).
Pedang adalah salah satu senjata tertua yang digunakan oleh tentara pada zaman dahulu untuk berperang. Bentuknya berbeda-beda dari abad ke abad. Kebanyakan merupakan benda yang cukup berat dengan daun pedang yang lebar sehingga memerlukan tenaga yang cukup kuat untuk memarang pihak lawannya, baik dalam posisi berdiri maupun berkuda. Sejak digunakan untuk membela diri, pedang dibuat makin besar dan makin berat sehingga diperlukan kedua tangan untuk menggunakannya (IKASI, 2002 : 1).
Sejarah Perkembangan Anggar di Dunia
Dengan berdirinya perkumpulan anggar di Frankfurt pada abad ke-14 maka Bangsa Jerman adalah Bangsa yang pertama kali menjadikan anggar sebagai olahraga. Tuntutan Bangsa Italia bahwa Italialah yang pertama menciptakan anggar pada abad ke-15 menjadi batal, mengingat Bangsa Jerman seabad lebih dahulu telah mempergunakan pedang panjang ( 90 cm ), tanpa memakai pelindung tangan (Selberg,Charles A., 1976 : 3).
Kapten Cordopa adalah orang yang pertama menggunakan pelindung tangan, Ia adalah Bangsawan Spanyol. Pedang tersebut hingga sekarang masih tersimpan di museum di Madrid. Bangsa Italia merubah cara-cara menggunakan anggar dengan mempergunakan pedang kecil dan membuatnya sebagai alat olahraga yang menanamkan kegesitan reaksi dan juga penajaman pandangan mata (IKASI, 2002 : 2).
Pada Abad ke-15 adalah awal munculnya sekolah dan perkumpulan anggar di Eropa yang telah menelorkan jago – jago seperti Marxbruder dari Frankfurt. Perkembangan olahraga anggar selanjutnya sangat pesat, sehingga pada abad ke-16 tersebar di seluruh Eropa dan diresmikan sebagai permainan anggar Ranier. Dengan menekankan pada keterampilan, para pendekar anggar telah memadukan dengan gerak tipu olahraga gulat, sehingga tercipta gerakan serangan ke depan (lunge) yang merupakan anggar sebagai seni bela diri (Broer,Marion R., 1976 : 143).
IKASI (2002 : 3) menambahkan bahwa sesuai dengan kemajuan zaman, maka diperlukan dasar dan peraturan pertandingan olahraga anggar. Seorang Bangsawan Perancis yang bernama Hendry Saint-Didier sekitar tahun 1570 menciptakan nama istilah-istilah pada gerakan – gerakan anggar, dalam bahasa Perancis. Dalam pertandingan Internasional istilah – istilahnya banyak dipergunakan, sedang sebelumnya banyak Negara menggunakan istilahnya masing – masing. Perubahan besar – besaran pada pedang terjadi sesuai dengan pandangan mengenai berbagai bentuk senjata yang dianggap terbaik, yang diketengahkan oleh Count Koeningsmarken dari Polandia sekitar Tahun 1680, dari hasil gagasannya maka terbentuklah beberapa jenis senjata : Floret, Degen, and Sabre. Penggunaan macam – macam pedang dan keterampilan bermain anggar dalam pertandingan satu lawan satu ( duel ) banyak terjadi di negara – negara Eropa maupun Amerika Serikat, dimana pada waktu itu terjadi perang Revolusi. Tetapi bagi generasi setelah itu, hal tersebut tidak terjadi lagi, karena permainan anggar secara khusus hanya dipermainkan oleh para olahragawan anggar sebagai olahraga.
Taylor, James (1991 : 2) melanjutkan bahwa permainan anggar pada saat itu merupakan bagian yang paling penting dari pendidikan setiap orang yang terhormat sebelum masuk Olimpiade seperti yang kita lihat sekarang. Peraturan pertandingan anggar termasuk memberikan hormat sebelum bertanding dan bersalaman pada saat selesai bertanding menunjukkan bahwa olahraga ini berasal dari kaum bangsawan.
Sejarah Perkembangan Anggar Di Indonesia
Di Indonesia anggar telah lama dikenal sebagai alat membela diri dengan menggunakan pedang, keris dan tombak yang telah lazim dilakukan sejak zaman kemegahan Kerajaan Majapahit. Pada zaman penjajahan Pemerintahan Belanda, pelajaran bela diri dengan senjata tajam dilarang keras, dengan sangsi hukuman berat. Pemerintahan yang melaksanakan pendidikan pelajaran beranggar di Indonesia sebelum Perang Dunia II adalah jajaran Militer Kerajaan Belanda, dan merekalah pula yang telah membawa dan memperkenalkan anggar di Indonesia. Perkembangannya masih khusus di kalangan Militer dan kemudian mendapatkan perhatian dari masyarakat umum.
Semasa penjajahan Pemerintahan Belanda, bagi tiap militer Belanda anggar menjadi kewajiban untuk dipelajari. Untuk menjadi seseorang yang ahli dalam berangggar, anggota militer tersebut harus memasuki Sekolah Olahraga Militer di Bandung, yang memakan waktu pendidikan selama satu tahun pelajaran yang dilatih oleh tenaga pelatih anggar dari Belanda. Pada zaman itu Pemerintah Hindia Belanda telah membuka sekolah – sekolah anggar untuk menjadi guru – guru anggar. Di Bandung untuk senjata floret, degen dan sable dengan lama pendidikan 3 tahun. Di Magelang sekolah anggar untuk jenis senjata sable pendidikan selama 1 tahun.
Adapun tokoh – tokoh militer bangsa Indonesia yang punya keahlian bermain anggar pada waktu itu antara lain Dr. Singgih Suparman, Maryono, Setu, Warsim, Paiman, Solekan dan Atmo Suwirdjo. Di antara mereka ada yang memberi pelajaran khusus beladiri anggar pada Akademi Militer di Indonesia sejak sebelum aksi militer II. Dari hasil pendidikan anggar inilah dimulainya perkembangan olahraga anggar di seluruh Indonesia.
Banyak juga guru – guru anggar yang terkenal lainnya seperti : Suratman Agam dan J. Sengkel dari Sulawesi Selatan, A. Mangangantung dari Sumatera Utara, Suparman dan Paimin Salikan dari Jawa Barat, Ch. Kuron dari Sulawesi Utara dan Warsimin dari Jawa Timur. Pada zaman kemerdekaan pada tahun 1948 di Solo bertepatan dengan PON I di samping pertandingan, anggar ditampilkan baru bersifat demonstrasi/eksebisi. Eksebisi tersebut diantara lain di dukung oleh pemain yang merupakan guru – guru anggar terkenal antara lain : Soeratman Agam, Soeratman dan J. Sengkel dan dibantu oleh tokoh – tokoh anggar lainnya seperti : Dr. Singgih, sebagai ketua umum dan Roosman Roekmantoro sebagai Sekretaris Umum organisasi olahraga anggar pertama kali yang disebut dengan IPADI (Ikatan Pendekar Anggar Indonesia).
Pada PON II di Jakarta pada tahun 1951, kejuaraaan anggar masih didemonstrasikkan oleh para guru – guru anggar, namun pada PON II ini mulai terlihat wajah – wajah sipil ( non militer ) yang menduduki peringkat atas. Kejuaraan anggar Nasional I dilaksanakan bertepatan dengan PON II/1951 di Jakarta. Bersamaan itu dilangsungkanlah kongres dan menetapkan R. A. Kosasi sebagai Ketua Umum dan Ong Siek Lok sebagai Sekretaris Umum. Nama organisasi anggar yang semula IPADI menjadi IKASI ( Ikatan Anggar Seluruh Indonesia) dan pengurus besarnya berkedudukan di Bandung.
Pada PON III tahun 1953 di Medan, pemain secara berangsur beralih ke pemain muda usia dari perkumpulan – perkumpulan setempat yang mewakili daerahnya ke PON III di Medan. Pada tahun 1967 kedudukan Pengurus Besar IKASI berpindah dari Bandung ke Jakarta dengan Yushar Yahya sebagai Ketua Umum dan Selatin sebagai Sekjen. Pada tahun 1985 terjadi pergantian pengurus besar, dimana yang menjadi Ketua Umum adalah H. M. Widarsadipradja dan Anhar Tanuamidjaja sebagai ketua harian, serta R. S. Poerawinata sebagai Sekjen. Akhirnya ditetapkan pada tahun 1985 bahwa setiap tahun akan diadakan Kejuaraan Nasional, kecuali apabila pada tahun itu ada PON (semua bagian ceritera sejarah di Indonesia disadur dari; IKASI, 2002 : 3 – 5).
KESIMPULAN
Segala sesuatu apabila belum seseorang itu belum mengenal maka akan susah bagi seseorang itu untuk mencintainya. Maka sebelum menekuni atau menjalani sesuatu ada baiknya untuk mencari tahu apa itu terlebih dahulu. Memang tidak salah ada pepatah yang menyatakan bahwa ”Tak kenal maka tak sayang”, dalam pengartian yang sangat sederhana adalah bagaimana mungkin sesorang itu dapat tahu banyak, senang, tertarik, dan mencintai sesuatu itu apabila belum mengetahui apa itu sesungguhnya.
Olahraga anggar ini memang masihlah tergolong olahraga yang langka, Indonesia secara umum dan D.I. Yogyakarta khususnya, sehingga bagaimana cara dalam memperkenalkan olahraga tidak salah pula salah satunya adalah dengan sedikit mengetahui bagaimana pula sejarah olahraga ini dapat terbentuk seperti sekarang ini, yang mana dari sejarahnya telah tertera bahwa olahraga ini memang bukan olahraga yang berasal dari Indonesia sendiri, melainkan salah satu olahraga yang berasal dari Eropa khususnya kerajaan – kerajaan di Eropa pada zaman dahulu.
Olahraga inipun dapat sampai dan sedikit dikenal di Indonesia seperti sekarang ini karena datangnya Belanda ke Indonesia pada zaman penjajahannya dahulu, yang mana dahulu hanya diperuntukkan pada dunia kemiliteran di Indonesia sampai akhirnya dapat dikonsumsi dan dinikmati oleh masyarakat luas seperti sekarang ini. Harapannya, melalui sedikit ceritera sejarah olahraga klasik ini dapat menggugah para pecinta olahraga ini untuk semakin mencintai olahraga anggar.
DAFTAR PUSTAKA
Broer, Marion R. (1976). Individual Sport for Women. Philadelpia : W.B.Saunders Company.
Garret, Maxwell R. (1961). Fencing. New York : Sterling Publishing CO.,Inc.
IKASI. (2002). Sejarah Anggar. http//www.IKASI.Or.Id.
Johnson, Samuel. (2006). Classical Fencing. http//www.Fencing.net.or.id.
Ken Dugan, Dewitt.R.T. (1978). Teaching Individual and Team Sport. New Jersey : Prentice – Hall,Inc.
Rd. Slamet Poerwinata. (1990). Mengenal Olahraga Anggar. Jakarta : DEPDIKBUD.
Selberg, Charles A. (1976). Foil. USA : Addison – Wesley Publishing Company.
Taylor, James. (1991). The Martial Art of Fencing. http//www.Fencing.net.or.id
Vince, Joseph. (1940). Fencing. USA : A.S.Barnes & Company.
26/10/10
25/10/10
23/10/10
Cara Agar Domain Co.cc Bisa Di akses Tanpa WWW
Tutorial ini saya adopsi dari blog Lembar Coretan yang membahas tentang bagaimana supaya domain gratis Co.Cc bisa di akses tanpa menggunakan awalan "www". Hal ini yang membuat saya tertarik untuk membuat ulasan kembali untuk Anda, barang kali saja dari sekian pengunjung blog ini masih ada yang belum tahu.
Dengan teknik redirect domain tanpa "www" ini, pengunjung akan lebih mudah mengakses weblog yang menggunakan domain Co.CC. Sehingga pemilik blog pun kemungkinan sangatkecil untuk kehilangan pengunjung yang memgakses blog tanpa awalan "www".
Dan cara ini sudah saya coba di praktekan dan hasilnya berhasil !!. Silahkan Anda coba kunjungi Purbalingga Blog ini tanpa "www" didepannya, pasti langsung redirect ke "www.purbalingga.co.cc".
Apa itu Joomla
Apa itu Joomla?
Joomla adalah Open Sorce CMS.
Apa itu CMS?
CMS adalah singkatan dari Content Management System.
Apa itu Content Management System?
Content Management System adalah Sebuah sistem yang digunakan untuk mengatur isi website dengan baik dan mudah.
Mengapa disebut Open Source?
Software/aplikasi web Joomla, terdiri dari kode-kode hasil karya programer-programer hebat dari penjuru dunia. Umumnya kode itu dijual, dan tidak murah. Inilah yang menjelaskan mengapa windows bajakan kamu tiba-tiba menjadi haram! Karena kamu harus membeli kode-kode itu, dul!
Open Source, adalah upaya untuk melepaskan kode-kode program kepada publik. Publik (yang mengerti) mengolahnya kembali menjadi lebih baik dan mudah diterima masyarakat (user friendly). Dan hasil yang sudah baik itu, diberikan secara cuma-cuma kepada masarakat.
Mengapa harus Content Management System?
Tidak harus! Kata siapa harus? Content Management System dipakai karena keluwesannya mengatur isi website.
Apa maksudnya luwes?
Maksudnya adalah amat mudah diperbaharui dan dinamis. Kalau isi website kamu tadinya sedikit, lalu pada suatu hari tiba-tiba menyadari bahwa website kamu semakin berkembang dan banyak pengunjungnya. Maka kamu perlu website yang mudah dihandle. CMS Joomla adalah salah satu jawabannya.
Apa saja isinya Joomla?
Kalau kamu Blogger, maka kamu tahu, apa isi blog kamu. Nah, Joomla itu lebih lengkap daripada sekedar WebBlog. Kalau kamu bukan Blogger, dan mau membuat website, entah itu untuk dagang, untuk sekolah, untuk komunitas/organisasi, maka Joomla adalah salah satu aplikasi web yang baik dan mudah dipelajari.
Kenapa baik dan mudah?
Karena gratis dan gampang installnya. Selain itu, didukung oleh komunitas internasional yang banyak. Lebih hebat lagi, berbahasa Indonesia loh.
Saya newbie… ralat, saya dummies. Gimana dong?
Pengguna Joomla itu biasanya terbagi dalam tingkatan user.
- Ada Basic User, yang bisanya cuman nginstal dan pakai… kalau bosan, uninstall.
- Ada Advance User, yang udah bisa ngutak-ngatik dikit script PHP, XML, MySql.
- Ada lagi Jagowan User. Yang mengembangkan sistem ini. Mereka adalah perancang, pembuat, pengeksekusi, penangkal serangan musuh, pengaman sistem, pengembang serta pembuat template dan sebagainya. Selain hebat, mereka juga orang-orang yang murah hati. Mereka bekerja gratis, bo! Murni sukarelawan tanpa pamrih. Bahkan ada yang rela nama aseli nya nggak disebut. Bener-bener Hamba Allah yang tidak mau disebutkan nama aslinya (walopun tetap harus pakai nama nick di cyberworld, karena itu kewajiban etik jagowan).
Selain tiga kategori diatas, terdapat pula kategori temen-temennya jagowan, yaitu yang membantu jagowan mengembangkan sistem ini, mereka disebut 3rd party developer. Mereka ada yang volunteer, alias pekerja gratis…, adapula Soldier of Fortune, alias prajurit bayaran, menarik bayaran dari user yang mendownload program mereka. Semuanya sah-sah saja. Sebab biasanya harga 3rd party juga ga mahal-mahal amat kok.
Apa itu 3rd party?
Sudah hukum alam, namanya manusia tidak pernah puas. Kalaupun puas, itu amat relatif sekali. Begitupun berlaku pada dunia. Joomla sebagai aplikasi web itu sebenarnya sudah baik. Namun, tetap saja ada yang menginginkan feature/tampilan yang lebih baik. Misalnya, menampilkan data pribadi perusahaan dalam gambar 3 dimensi.
Untuk menjawab kebutuhan itu, ada orang-orang yang mampu menjawabnya serta membuatnya. Orang-orang tersebut membuat pelengkap. Nama kelengkapannya disebut 3rd party.
Demikian posting ke 2 saya....
5 Langkah utama dalam mixing
Mixing merupakan sebuah proses pengaturan agar track-track audio terdengar balance satu sama lain. Proses ini merupakan sebuah proses kreatif yang sebenarnya sangat subjektif, serta bergantung pada genre musik yang sedang dikerjakan. Dengan demikian tutorial cara mixing lagu ini tidak dimaksudkan untuk menjadi aturan baku yang membuat anda dapat secara instant memiliki kemampuan mixing lagu secara sempurna ( karena mixing sempurna tergantung dari taste, art, telinga yang baik, latihan, jumlah sachet kopi instant serta batang rokok :)), namun paling tidak dapat dijadikan sebagai sebuah panduan umum untuk mengetahui darimana memulai, serta menentukan arah proses tersebut.
Langkah langkah yang akan saya bahas dibawah merupakan cara mixing lagu yang biasa saya lakukan di studio (dan rasanya sebagian besar studio engineer menggunakan langkah yang sama) hanya secara garis besarnya . Langkah-langkah detail cara mixing drum, cara mixing bass guitar, cara mixing vocal dan lain-lain dapat anda temukan pada artikel saya lainnya di blog ini.
Langkah pertama – mixing drum
Langkah pertama adalah mixing drum. Berikut adalah cara yang biasa saya gunakan untuk mixing drum :
Pertama mute semua track yang ada, kemudian aktifkan semua track drum kit (cymbals, hi-hat, tom dsb). Geser slider pan pada kedua track overhead cymbal ke kiri dan ke kanan sesuai urutannya. Biarkan slider pan pada snare dan kick tetap di tengah. Kemudian geser pan dari elemen drum lain sesuai dengan posisi standarnya, misalnya suara hi-hat di sebelah suara snare, tom 1 di sebelah tom 2, dst.
Compress semua track drum tersebut, kecuali track cymbals. Kemudian atur equalizer semua track drum tadi satu persatu.
Hal yang perlu diingat ketika mengatur equalizer drum, bahwasanya instrument-instrument lain seperti vocal, guitar, piano, keyboard dll nantinya harus memiliki frekuensi tersendiri. Dengan demikian akan jauh lebih baik jika frekuensi dari setiap elemen drum yang nantinya akan digunakan oleh instrument lain dipotong terlebih dahulu.
Setelah proses Compress dan EQ selesai, atur level volume semua track drum sehingga terdengar balance. Effect reverb biasanya diberikan hanya jika benar-benar dibutuhkan. Sebisa mungkin drum tidak diberikan effect apapun agar pukulannya tedengar jelas. Kalaupun terpaksa memberikan effect karena perlu memberikan kesan live biasanya reverb hanya diberikan pada snarenya saja.
Langkah kedua - mixing bass guitar
Langkah berikutnya adalah mixing bass guitar kedalam lagu. Cara mixing bass guitar didalam sebuah lagu adalah sebagai berikut:
Nyalakan track bass dan biarkan pan tetap ditengah. Compressing pada track bass ini sebenarnya tidak terlalu perlu (kecuali jika suaranya benar-benar terdengar naik turun). Andaikan terpaksa mengcompress track ini, maka konfigurasi compressor harus diatur secara hati-hati agar suara dentuman dari petikkan senar bass tidak terdengar lemah.
Setelah selesai dikompresi, berikutnya adalah mengatur EQ untuk bass tersebut. Mengatur EQ pada bass biasanya akan sedikit lebih sulit dikarenakan range frekuensi yang ditempati bass guitar hampir sama dengan range frekuensi yang ditempati oleh kick drum. Pada kondisi ini biasanya saya bereksperimen disekitar frekuensi low – mid untuk membuat kedua instrument tersebut tetap terdengar terpisah satu sama lain.
Terakhir, mengatur level volume bass tersebut hingga sama keras dengan level volume drum. Pada tahap ini biasanya suara bass akan terdengar terlalu keras, namun anda tidak perlu kuatir karena ketika semua instrument selesai di mix, maka hal tersebut tidak akan terlalu mencolok.
Langkah ketiga – mixing vocal
Setelah bass dan drum selesai di mixing, proses berikutnya adalah mixing vocal.
Pada saat mixing vocal, compressor mungkin diperlukan untuk mengatasi fluktuasi suara yang terjadi pada saat proses perekaman.
Atur EQ sehingga suara vocal berada disekitar range frekuensi 2500 Hz. Frekuensi dibawah 80 Hz biasanya perlu dipotong untuk menghilangkan noise.
Track vocal mungkin akan terdengar lebih baik jika diberikan sedikit reverb atau delay, namun reverb/delay tersebut harus diatur agar tidak terlalu panjang ataupun terlalu berlebihan Beberap musisi biasanya menggunakan effect plate reverb atau slapback delay pada track vocal, namun hal tersebut bukan suatu acuan karena akan sangat bergantung pada selera anda serta kebutuhan lagu.
Langkah keempat – mixing guitar
Proses selanjutnya adalah mixing track guitar. Pada saat mixing guitar, track rhythm guitar umumnya diduplikasi menjadi dua track yang kemudian di-pan ke kiri dan kanan agar terdengar lebih tebal, sementara lead gitar di duplikasi menjadi dua track yang diposisikan sedikit ke kiri dan sedikit ke kanan.
Suara gitar memiliki peak natural pada frekuensi sekitar 4 kHz, hal tersebut dapat dijadikan acuan pada saat menggunakan EQ. Compressor yang digunakan secara berlebihan pada track guitar dapat membuat noise.
Terakhir, atur level volume guitar sehingga tidak bertabrakan dengan suara vocal.
Langkah kelima – mixing instrument keyboard, piano dan instrument lainnya
Langkah kelima adalah mixing keyboard, piano, serta instrument-instrument lainnya. Pada saat mixing dilakukan pada sisa track-track instrumen tersebut, nyalakan satu persatu dan bereksperimenlah dengan posisi panning. Satu hal yang harus dipehatikan adalah : pada saat setiap kali salah satu instrument ditambahkan kedalam lagu, maka natural peak dari instrument tersebut akan bercampur dengan track lain. Untuk mengatasi situasi ini , yang biasanya dilakukan adalah mencoba menambah maupun mengurangi level volume track, mengatur ulang equalizer ataupun effect lain sesuai kebutuhan, namun dengan tetap menjaga eksistensi suara drums, bass dan vocal.
Langkah langkah yang akan saya bahas dibawah merupakan cara mixing lagu yang biasa saya lakukan di studio (dan rasanya sebagian besar studio engineer menggunakan langkah yang sama) hanya secara garis besarnya . Langkah-langkah detail cara mixing drum, cara mixing bass guitar, cara mixing vocal dan lain-lain dapat anda temukan pada artikel saya lainnya di blog ini.
Langkah pertama – mixing drum
Langkah pertama adalah mixing drum. Berikut adalah cara yang biasa saya gunakan untuk mixing drum :
Pertama mute semua track yang ada, kemudian aktifkan semua track drum kit (cymbals, hi-hat, tom dsb). Geser slider pan pada kedua track overhead cymbal ke kiri dan ke kanan sesuai urutannya. Biarkan slider pan pada snare dan kick tetap di tengah. Kemudian geser pan dari elemen drum lain sesuai dengan posisi standarnya, misalnya suara hi-hat di sebelah suara snare, tom 1 di sebelah tom 2, dst.
Compress semua track drum tersebut, kecuali track cymbals. Kemudian atur equalizer semua track drum tadi satu persatu.
Hal yang perlu diingat ketika mengatur equalizer drum, bahwasanya instrument-instrument lain seperti vocal, guitar, piano, keyboard dll nantinya harus memiliki frekuensi tersendiri. Dengan demikian akan jauh lebih baik jika frekuensi dari setiap elemen drum yang nantinya akan digunakan oleh instrument lain dipotong terlebih dahulu.
Setelah proses Compress dan EQ selesai, atur level volume semua track drum sehingga terdengar balance. Effect reverb biasanya diberikan hanya jika benar-benar dibutuhkan. Sebisa mungkin drum tidak diberikan effect apapun agar pukulannya tedengar jelas. Kalaupun terpaksa memberikan effect karena perlu memberikan kesan live biasanya reverb hanya diberikan pada snarenya saja.
Langkah kedua - mixing bass guitar
Langkah berikutnya adalah mixing bass guitar kedalam lagu. Cara mixing bass guitar didalam sebuah lagu adalah sebagai berikut:
Nyalakan track bass dan biarkan pan tetap ditengah. Compressing pada track bass ini sebenarnya tidak terlalu perlu (kecuali jika suaranya benar-benar terdengar naik turun). Andaikan terpaksa mengcompress track ini, maka konfigurasi compressor harus diatur secara hati-hati agar suara dentuman dari petikkan senar bass tidak terdengar lemah.
Setelah selesai dikompresi, berikutnya adalah mengatur EQ untuk bass tersebut. Mengatur EQ pada bass biasanya akan sedikit lebih sulit dikarenakan range frekuensi yang ditempati bass guitar hampir sama dengan range frekuensi yang ditempati oleh kick drum. Pada kondisi ini biasanya saya bereksperimen disekitar frekuensi low – mid untuk membuat kedua instrument tersebut tetap terdengar terpisah satu sama lain.
Terakhir, mengatur level volume bass tersebut hingga sama keras dengan level volume drum. Pada tahap ini biasanya suara bass akan terdengar terlalu keras, namun anda tidak perlu kuatir karena ketika semua instrument selesai di mix, maka hal tersebut tidak akan terlalu mencolok.
Langkah ketiga – mixing vocal
Setelah bass dan drum selesai di mixing, proses berikutnya adalah mixing vocal.
Pada saat mixing vocal, compressor mungkin diperlukan untuk mengatasi fluktuasi suara yang terjadi pada saat proses perekaman.
Atur EQ sehingga suara vocal berada disekitar range frekuensi 2500 Hz. Frekuensi dibawah 80 Hz biasanya perlu dipotong untuk menghilangkan noise.
Track vocal mungkin akan terdengar lebih baik jika diberikan sedikit reverb atau delay, namun reverb/delay tersebut harus diatur agar tidak terlalu panjang ataupun terlalu berlebihan Beberap musisi biasanya menggunakan effect plate reverb atau slapback delay pada track vocal, namun hal tersebut bukan suatu acuan karena akan sangat bergantung pada selera anda serta kebutuhan lagu.
Langkah keempat – mixing guitar
Proses selanjutnya adalah mixing track guitar. Pada saat mixing guitar, track rhythm guitar umumnya diduplikasi menjadi dua track yang kemudian di-pan ke kiri dan kanan agar terdengar lebih tebal, sementara lead gitar di duplikasi menjadi dua track yang diposisikan sedikit ke kiri dan sedikit ke kanan.
Suara gitar memiliki peak natural pada frekuensi sekitar 4 kHz, hal tersebut dapat dijadikan acuan pada saat menggunakan EQ. Compressor yang digunakan secara berlebihan pada track guitar dapat membuat noise.
Terakhir, atur level volume guitar sehingga tidak bertabrakan dengan suara vocal.
Langkah kelima – mixing instrument keyboard, piano dan instrument lainnya
Langkah kelima adalah mixing keyboard, piano, serta instrument-instrument lainnya. Pada saat mixing dilakukan pada sisa track-track instrumen tersebut, nyalakan satu persatu dan bereksperimenlah dengan posisi panning. Satu hal yang harus dipehatikan adalah : pada saat setiap kali salah satu instrument ditambahkan kedalam lagu, maka natural peak dari instrument tersebut akan bercampur dengan track lain. Untuk mengatasi situasi ini , yang biasanya dilakukan adalah mencoba menambah maupun mengurangi level volume track, mengatur ulang equalizer ataupun effect lain sesuai kebutuhan, namun dengan tetap menjaga eksistensi suara drums, bass dan vocal.
Langganan:
Komentar (Atom)
